LELAKI DI SUDUT RUMAH
Melewati dingin
malam menyuap tubuh. Aku dan Ibu menghabiskan malam di depan teras rumah. Duduk
berdampingan dibatasi oleh tomples kacang kulit malam itu. Ditemani kacang
kulit kesukaan ibuku aku banyak bertanya tentangnya di masa lalu. Banyak ku
tanya tentang kakek dan nenek ku karena aku hampir lupa bagaimana rasanya
bertemu kakek dan nenekku. Keduanya sudah tidak ada sejak aku kecil. Jadi
ingatanku memang tidak banyak tentang mereka.
Eh malam itu ibu
tanya
“nak pernah
dengar tentang penduduk langit?..”
“orang bilang
mereka memperhatikan kita yang di bumi, orang bilang mereka merindukan kita.”
Lalu
kuperhatikan langit disekitaran rumahku. Sambil ku tengok langit malam itu dan
ibuku memberikan aku sepotong cerita manis tentang lelaki di sudut rumah.
•••
Lelaki itu sudah
berdiri sejak fajar di depan rumah kala itu. Menanti seorang gadis yang tak
kunjung datang. Jam terus berdetak membuat laki-laki itu tampak semakin cemas.
Akhirnya yang di tunggu datang. Iya…seorang gadis cantik melangkah turun dari angkot
tepat di depan rumah. Pertanda baik telihat di seberang jalan rumah itu. Bibir
lelaki samar-samar tersenyum hingga lutur wajah cemasnya.
“Jadi begini dulu ada seorang gadis yang setelah
lulus SMA cukup lama berada dirumah”.
Ku simak dan
kuperhatikan baik-baik ibuku bercerita.
“Gadis itu sering
dimarahin oleh ibunya”.
“loh kenapa?”
Aku terkejut mendengarnya
“Mungkin karena
gadis itu telalu lama di rumah dan tidak melakukan apapun”
Karena merasa
bosan terus dimarahi dirumah, gadis tersebut mencoba untuk mengikuti les komputer
pada masa itu yang lokasinya ada di semarang. Butuh waktu beberapa jam untuk
sampai kesana dari rumahnya.
Gadis tersebut
pamit untuk bermain ke tempat temannya dan tidak mengatakan akan mengikuti les
komputer kala itu. Pada hari itu gadis tersebut tidak dapat pulang karena sudah
telalu larut dan tidak ada kendaraan yang menuju ke rumahnya. Gadis itu
menginap di rumah Ibu Kis yang dulunya pernah menjadi ibu kos gadis tersebut
selama SMA, yang sudah di anggapnya seperti saudara. Gadis itu tidak dapat
menghubungi keluarga di rumah karena pada saat itu belum ada telepon genggam. Esok
paginya gadis tersebut bergegas pulang menggunakan angkot karena takut orang
dirumah akan cemas. Hingga sesampainya di depan rumah, sudah ada lelaki yang
menunggunya disana. Lelaki tersebut langsung menghampiri gadis tersebut dan
menyambutnya di rumah dengan sebuah dekapan hangat.
Berhenti sejenak
ibuku bercerita karena harus mengunyah kacang kulitnya dahulu. Lalu dilanjutkanlah
ceritanya.
Ibu bilang gadis
ini adalah dirinya dan lelaki di sudut rumah itu adalah Ayahnya. Pak’e
panggilan sayang dari ibuku untuknya. Kalau panggilan kesayanganku untuk
kakekku adalah mbah kakung.
Telihat mata
yang berkaca merangkul setiap bait ceritanya, nafas yang memeluk kerinduan akan
kenangan indah itu. Merambatkan tiap tatap penuh rindu pada malam itu. Ibu
sempat berhenti bercerita, beristirahat sejenak dan mengingat memori itu.
Ibu bilang mbah
kakung bukan orang yang banyak bicara. Pada malam itu dimana ibuku tidak bisa
pulang dan tidak dapat menghubungi katanya mbah kakung sempat khawatir. Begitu
khawatirnya seorang ayah hingga dalam mimpi. Mbah kakung bercerita kepada ibu
setelah beberapa hari bahwa ia memimpikan ibuku pada malam itu dan pada mimpi
itu ibuku berkata bahwa ia pamit pulang. Mungkin mimpi ini membuatnya berfikir
yang tidak-tidak. Malam itu sepertinya mbah kakung tidak dapat tidur nyenyak.
Karena ibu belum pulang di tambah lagi dengan mimpi itu. Esok paginya mbah
kakung menunggu di sudut rumah menunggu sang gadis, sang anak pulang. Dari
dalam angkot ibuku sudah melihat ayahnya menunggu didepan rumah dengan muka
yang begitu berharap. Saat ibu sampai di depan rumah, mbah kakung langsung
menghampiri dan menyambut anaknya. Tak telihat kata khawatir dari bibirnya
namun dekapan penantian dan juga tarikan nafasnya yang melegakan membuatnya
telihat jelas. Telihat bahwa sang ayah mengkhawatirkan gadisnya.
Perhatian yang
kecil dari seorang ayah kepada anaknya hingga saat ini tinggal memori tetapi
melekat di hati seorang anak. Aku tahu itu terlihat di binar matanya dan cara
bicaranya. Aku mendapatkan pembelajaran dari cerita ibu bahwa pasti akan datang momen dimana kamu mengingat hal
kecil yang dilakukan oleh ayahmu namun saat itu kamu tidak memperhatikannya,
tidak melihatnya, tidak merasakannya. Tapi baru kamu rasakan dan ingat ketika
ayahmu tidak ada. Memang benar kata beberapa orang kenangan indah dan rasa
rindu akan muncul begitu kuat ketika orang tersebut sudah tidak ada.
Foto ini diabadikan pada tahun 1992.


Komentar
Posting Komentar